Kecemburuan Sosial


Kuningan, UPMKnews --- Pada film pendek yang berjudul “Kegalauan Siswa” menceritakan tentang kecemburuan siswa yang selalu di ejek karena latar belakang orang tuanya yang kurang mampu. Kecemburuan sosial kerap kali terjadi di kalangan  remaja. Kecemburuan sosial terjadi karena adanya tingkatan struktur sosial yang mempengaruhinya. Bisa karena keturunan, pendidikan, jabatan maupun takdir dari Tuhan. Kecemburuan inilah yang menjadi masalah dalam kehidupan kita. Pada dasarnya kita tidak dapat memilih dilahirkan dalam keluarga yang seperti apa, yang dapat kita lakukan adalah menerima atau memperbaiki nasib kita agar tidak adanya rasa iri hati terhadap orang lain, Suci siswa di salah satu SMA favorit yang mendapatkan beasiswa dan salah satu anak yang terlahir di keluarga yang perekonomiannya termasuk menengah kebawah.

Suci adalah anak yang sangat baik dan berprestasi, namun ia selalu menjadi sasaran bully teman-temannya karena ia serba berkecukupan. Ayah dan Ibunya Suci adalah pekerja serabutan dan penghasilannyapun hanya cukup untuk makan sehari-hari. Alya dan Dinda adalah teman kelas Suci yang terlahir dari keluarga menengah atas, orangtua nya pun kerap kali pulang pergi keluar negeri untuk bekerja, tak heran jika mereka berdua hidupnya sangat tercukupi. Namun mereka memanfaatkan keadaan hidupnya untuk membully teman temannya yang tidak mampu. Salah satunya adalah Suci, ia sering kali di bully oleh mereka. Tetapi Suci tidak pernah menanggapinya, hingga pada suatu hari Suci sudah muak dengan perlakuan mereka karena ini bukan sekali dua kali terjadi pada Suci dan kali pertamanya Suci menjadi anak yang gegabah.

Ketika suci ingin bergabung dengan temannya untuk mencari sumber pelajaran melalui handphone,karena handphone yang di miliki Suci tidak bisa di pakai untuk internet, tiba-tiba ia mendapatkan perkataan yang menyakiti hatinya dengan membawa latar belakang pekerjaan orang tua. Suci pun keluar kelas dan tidak kembali lagi ke kelas. Ibu ines selaku guru BK sekolahannya mendapati suci yang sedang menangis di lorong kelas dan membawanya ke ruang BK. Suci pun bercerita ketika di ruang BK, ibu Ines pun menenangkan Suci agar tidak menangis. Namun Suci bersikeras ingin keluar dari sekolah itu, karena ia sudah tidak kuat dengan dua temannya yang sering mengejek dia. Tanpa sepengetahuan Suci , bu Ines pun menelpon Ibu Suci agar datang kesekolah dan berharap dapat menenangkan Suci.

Disaat jam istirahat, Ibunya Suci datang menemui guru BK dan menanyakan keberadaan Suci. Kemudian Ibunya Suci bertemu dengan Suci dan mencoba menenangkan. Beberapa menit kemudian bu Ines menelpon walikelas Suci untuk memanggil Alya dan Dinda selaku siswa yang menyebabkan Suci menangis. Kemudian mereka berkumpul di ruang BK untuk menyelesaikan permasalahan ini. Sebelumnya pak Falah selaku walikelas dari mereka bertiga kebingungan karena tiba-tiba di panggil keruang BK,kemudian bu Ines menjelaskan apa yang terjadi pada Suci.

Saat itu Alya dan Dinda tidak mengakui apa yang sudah mereka perbuat. Namun dengan hati lembutnya ibu Suci menanyakan , akhirnya mereka mengakui kesalahan mereka. Ibunya Suci pun memberikan nasihat kepada mereka berdua bahwa tidak boleh membanding-bandingkan kekayaan seseorang , karena kekayaan tidak akan menjadi tolak ukur seseorang dan tidak akan menjadi syarat kebahagiaan seseorang. Bertemanlah dengan siapa saja, tanpa melihat latar belakang seseorang. Setelah mendapat nasihat dari orangtua suci, Alya dan Dinda pun langsung meminta maaf kepada Suci dan Ibunya atas perkataan yang menyakiti hatinya. Mereka bertiga pun akhirnnya berteman dengan damai, dan Suci pun mengurungkan niatnya untuk tidak keluar dari sekolah itu.


Bagikan Berita Ini

Facebook Twitter Whatsapp