Implementasi Kurikulum MBKM, Prodi PG-PAUD Ajak Kerjasama dengan Perusahaan Batik Trusmi


Kuningan, UPMKnews – Program Studi Pendidikan Guru – Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) STKIP Muhammadiyah Kuningan menjalin kerjasama dengan mitra industi Batik Katura Trusmi Cirebon, pada Sabtu (24/10/2020) kemarin, di Sanggar Batik Katura, Jl. Trusmi, Trusmi Kulon, Plered, Cirebon, Jawa Barat.

Kerjasama ini dalam rangka mendukung implementasi program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang telah dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Prodi PG – PAUD STKIP Muhammadiyah Kuningan termasuk salah satu Prodi yang mendapat hibah Program Bantuan Menerapkan Kerja Sama Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Jalinan kerja sama ditandai penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara Ketua Program Studi PG – PAUD dengan Pengusaha Batik Katura Trusmi. Penandatanganan MoU tersebut sebagai upaya pengembangan desain dan manajemen marketing batik bagi mahasiwa prodi PG – PAUD.

Erik, selaku Ketua Prodi PG – PAUD menyampaikan terimakasihnya kepada Katura AR sang pemilik sanggar batik katura, tidak hanya pengusaha, Katura AR juga sebagai sosok budayawan dan seniman, dan kita perlu belajar kepada sosok beliau yang sangat sederhana.

Ketua Prodi PAUD itu berencana, setelah kerjasama ini terjalin maka sebagai Memorandum of Actionnya, nantinya mahasiswa PAUD akan kami ajak kesana untuk diberikan pembinaan khusus cara dan teknik membatik, setidaknya para calon Guru PAUD itu bisa menguasai teknik membatik, sehingga ilmu dan pengalaman yang didapatkan bisa ditularkan kepada siswa saat nanti di sekolah.

“Tidak dapat  dipungkiri bahwa batik Jawa atau Cirebon merupakan warisan turun temurun. Oleh karena itu batik Cirebon masih dan akan terus bersaing di dunia industri kreatif,” tutur Erik kepada UPMKnews (24/10)

Selain itu, untuk mendukung visi kampus unggul dalam pendidikan, teknologi dan kewirausahaan, semua mahasiswa PAUD, tidak hanya rajin dalam membuat batik, tetapi diajarkan menghitung nilai ekonomi, mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Berapa modal yang dikeluarkan dan berapa harga jual dari batik yang diproduksi, pungkas Erik. [sekre/asa]


Bagikan Berita Ini

Facebook Twitter Whatsapp